AdsenseCamp

Kamis, 19 April 2012

Makalah Agama dan Modernisasi


Bab 1
Pendahuluan



1.1           Latar belakang penelitian :

Kami melakukan penelitian ini didasari oleh keprihatinan kami atas rusaknya moral generasi muda. Kurang taat dalam kehidupam beragamanya yang diakibatkan oleh majunya teknologi atau apa yang biasa kita sebut modernisasi.


1.2 Rumusan masalah                             :

1.      Masalah yang kerap kali timbul dalam modernisasi adalah sikap kurangnya sportifitas.
2.       Sebagian besar dari kita akan melupakan suatu kewajiban yang seharusnya kita jalani baik dalam kehidupan beragama bermasyarakat maupun berumah tangga. Tetapi, biasanya masalah itu lebih banyak menyangkut  ke masalah agamis.



1.3 Tujuan penelitian                              :

Tujuan penelitian yang kami lakukan adalah untuk mencari suatu pembuktian maupun solusi untuk mengatasi masalah modernisasi dalam  agama, Selain itu,  tujuan kami selanjutnya adalah belajar dan mengetahui cara memperbarui pemahaman Islam dengan berjuang membebaskan negri-negri Islam dari penjajahan dalam bentuk apapun. Jadi dimasa modernisasi yang akan datang kita hrus melakukan perbuatan yang tidak boleh keluar dari norma-norma Islam.



1.4 Metode penelitian                             :

         Metode penelitian kami menggunakan cara berikut:
1. Melakukan surfey
2. Mengeplikasikan intisari buku
3. Mewancarai dari berbagai pihak
4. Menambah pengetahuan penulis sebagai pelengkap

1.5 Manfaat atau kegunaan penelitian :

 1.Sebagai penambah pengetahuan bagi pembaca, agar pembaca tidak salah    pengertian tentang agama islam.
 2.Media memperluas wawasan

1.6 Sistematika penelitian                      :

1. Menentukan tema
2. Menentukan judul
3. Membuat kerangka
4. mengumpulkan data
5. Mengolah data
6. Melakukan penelitian
7. Menuankan hasil pengolahan data dan hasil survey dalam bentuk tulisan yang dapat dipertanggung jawabkan.


BAB 2
PILIH AGAMA ATAU MODERNISASI


2.1 Pengertian agama dan modernisasi

Perkembangan zaman yang dihadapi manusia dewasa ini membuat mereka lupa akan agamanya. Manusia di zaman ini lebih banyak disibukan oleh persoalan-persoalan pribadi, kesibukan mengurusi pekerjaan, bisnis, dan larut dalam materialisme dan hedonisme. Inilah fenomena masyarakat yang hidup di zaman modern. Dengan kata lain, kehidupan atau peradaban modern seakan-akan menjauhkan manusia dari nuansa religiusitas.
Jika ditelisik lebih jauh peradaban-peradaban masa lalu (peradaban Islam pada masa Rasul dan para sahabat) sangat memiliki keyakinan dan keterikatan erat terhadap nilai-nilai agama. Namun pada era ini, nilai-nilai tersebut terpinggirkan. Hal ini dibuktikan dengan fenomena-fenomena yang terjadi pada masyarakat modern, turunnya harga diri manusia, wanita-wanita yang rela mengorbankan kehormatan demi kesenangan dan uang, krisis kejujuran merupakan ciri dari terpinggirkannya nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan. Dengan kata lain, dalam peradaban modern manusia telah menuhankan diri sendiri dan menjauhkan diri dari nilai-nilai spritual serta terjebak dalam kenikmatan duniawi.
Peradaban modern sering dipandang sebagai peradaban Barat. Manusia dari berbagai penjuru memandang peradaban Barat dengan penuh kekaguman dan berusaha untuk menirukannya. Bahkan peradaban tersebut dijadikan standar dan parameter kemajuan manusia.
Memang tidak sepenuhnya salah jika memandang modernisme berasal dari barat, tetapi untuk menjadi manusia modern tidak mesti mengikuti pola kehidupan masyarakat Barat. Menjadi modern berarti mampu menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi tetapi tetap dilandaskan pada nilai-nilai keagamaan, sehingga pengamalannya selalu bermuara pada keseimbangan yaitu perpaduan antara nilai-nilai ketuhanan dan ilmu pengetahuan, ilmu dengan iman atau ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan iman dan taqwa (IMTAQ). Artinya, setiap umat Islam harus mampu memadukan nilai-nilai religiusitas dalam bingkai modernisme, bukan sebaliknya, larut dalam kehidupan atau peradaban modern.
Kata modern yang dikenal dalam bahasa Indonesia jelas bukan istilah original melainkan “diekspor” dari bahasa asing (modernization),2 berarti “terbaru” atau “mutakhir” menunjuk kepada prilaku waktu yang tertentu (baru).3 Akan tetapi, dalam pemaknaan yang luas modernisasi selalu saja dikaitkan dengan perubahan dalam semua aspek kawasan pemikiran dan aktifitas manusia sebagaimana kesimpulan Rusli Karim,4 dalam menganalisis pendapat para ahli tentang modernisasi.
Secara teoritis di kalangan sarjana Muslim mengartikan modernisasi lebih cenderung kepada suatu cara pandang meminjam defenisi Harun Nasution,5 modernisasi adalah mencakup “pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainnya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”.
Sedangkan Fazlur Rahman,6 sarjana asal Pakistan mendefenisikan modernisasi dengan “usaha-usaha untuk melakukan hormonisasi antara agama dan pengaruh modernisasi dan westernisasi yang berlangsung di dunia Islam” dan Mukti Ali,7 tepat disebut disebut mewakili sarjana Indonesia mengartikan modernisasi sebagai “upaya menafsirkan Islam melalui pendekatan rasional untuk mensesuaikannya dengan perkembangan zaman dengan melakukan adaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia modern yang sedang berlangsung”.
Di kalangan orientalis sendiri (Gibb dan Smith),8 menilai reaksi modernisasi yang dilakukan di dunia Islam lebih cenderung bersifat “apologetis” terhadap Islam dari berbagai tantangan yang datang dari kaum kolonial dan misioneris Kristen dengan menunjukkan keunggulan Islam atas peradaban barat, dan juga modernisasi dipandang sebagai “romantisisme” atas kegemilangan peradaban Islam yang memaksa Barat untuk belajar di dunia Islam. Akan tetapi, sesudah itu Barat bangun dan maju, bahkan dapat mengalahkan dan mengusai dunia Islam sehingga menarik perhatian ulama dan pemikiran Islam untuk mengadopsi kemajuan Barat tersebut termasuk modernisasinya.
Sehingga dengan demikian jelas dari perspektif historis harus diakui bahwa istilah modernisasi ini untuk pertama kali diperkenal bukan oleh sarjana Muslim didunia Islam melainkan oleh sarjana Barat dalam konteks gejala keagamaan atau lebih tepat disebut sebagai suatu aliran yang muncul dari tubuh agama Kristen dengan munculnya gerakan “pembacaan baru” terhadap doktrin kegamaan supaya terkesan lebih sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi,10 dan sangat dimungkin kalau para modernis awal di kalangan dunia Islam sangat terinspirasi dari gejolak modernisasi keagamaan yang dihembuskan oleh Martin Luther (?) abad 16.11
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa modernisasi dalam arti material adalah sebuah proses yang membawa pengembangan ekonomi dan penciptaan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Modernisasi tidak hanya mencakup aspek material semata, namun juga meliputi aspek intelektual dan spritual. Oleh karena itu, perpaduan antara modernisasi dan Islam adalah keniscayaan
Agama merupakan tuntunan hidup. Dengan adanya agama kita dapat melakukan perbuatan dengan batasan norma-norma. Jika tidak didasari oleh agama, manusia akan bertindak semaunya yang  akhirnya akan menyebabkan kekacauan dan runtuhnya modernisasi di era globalisasi yang akan datang. Jika dipahami lebih mendalam Islam pun termasuk agama yang modern (baru) dibandingkan dengan agama-agama samawi lainnya. Hal ini dibuktikan terhadap penolakan kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat arab kala itu, yang telah menganut agama pagan.
Walaupun modernasasi Islam terletak dalam bidang agama, tetapi Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi modern dalam arti ahli dibidang sains, justru umat Islam diharuskan ahli dalam bidang tersebut agar tidak tertinggal dari Barat. Karena, pengetahuan atau sains yang dikembangkan Barat banyak diadopsi dari para pemikir Islam. Misalnya, ilmu kedokteran berasal dari Ibn Shina, teori evolusi dimunculkan terlebih dahulu oleh Jalaluddin Rumi sebelum Darwin, al-Biruni jauh-jauh hari sebelum copernicus telah mengatakan bahwa bumi mengelilingi matahari, dan sebagainya. Artinya, untuk menjadi modern bukan dengan mengikuti budaya-budaya yang dikembangkan oleh Barat, tetapi menciptakan sesuatu yang baru dalam bidang sains (apapun bentuknya) yang dapat diamalkan dan dimanfaatkan bagi kehidupan orang banyak.
Peradaban modern yang hadir sekarang ini harus dipahami sebagai perubahan zaman yang tidak bisa terelakkan dari kehidupan manusia. Akan tetapi, manusia tidak harus larut dalam peradaban seperti ini. Justru manusia harus mampu meramu peradaban modern dengan nuansa religiusitas, sehingga peradaban ini tidak selalu diartikan dengan hedonisme, materialisme dan tidak menjadikan kehidupan masyarakat barat untuk menjadi rujukan.
Sejak abad ke-18 umat Islam mengalami kemerosotan setelah gagalnya berbagai gerakan Islam untuk membangkitkan umatnya. merosotnya Islam terjadi karena kelemahan dalam memahami Islam dan akhirnya kita hidup terjajah  oleh Negara-negara penjajah yang kafir dalam sistim menglami kemunduran yang drastis.
pemahaman-pemahaman Islami dijelaskan berfokus pada tiga pemahaman, yaitu pemahaman yang terkait dengan akidah Islami, syariah Islam, dakwah Islam. Didalam akidah Islam menjelaskan bahwa setelah tiadanya manusia, alam semesta dan kehidupan nanti akan ada hari kiamat sekaligus hari perhitungan. Karena itu, manusia wajib menjalani kehidupan didunia ini sesuai perintah-perintah dan larangannya. syariah Islam itu  ada untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat bukan untuk kenikmatan berfikir seperti filsafat.
Dan yang terakhir adalah dakwah Islam. Pembahasan dakwah  Islami disini dimaksudkan untuk menjelaskan metode mencapai kekuasaan. Pada materi Thariq al-Iman dijelaskan bagaimana metode memperoleh keimanan yang benar, yaitu diperoleh dengan jalan berfikir cemerlang (mustanis), bukan lewat jalan wijdan (naluri) semata. Dengan kata lain, akidah Islam hendaknya didasarkan pada naluri fihri.
Jadi dimasa modernisasi yang akan datang kita harus melakukan perbuatan yang tidak boleh keluar dari norma-norma Islam.



2.2 Permasalahan agama yang timbul
           
Pembangunan dan kemajuan dunia modern menekan segi material dengan hanya memperkuat motif-motif keserakahan, kecemburuan social, ingin menguasai sendiri, dan motif-moif yang sangat mendahulukan kepentingan pribadi. Tradisi masyarakat  sekarang dapat kita lihat melalui layar dan berbagai media cetak serta realitas kehidupan masyarakat, baik yang berada di kota-kota besar Negara barat yang merupakan  perwujudan puncak dunia modern maupun berbagai daerah di Indonesia.
Merosotnya iman sebagai akibat proses sekularisasi, hidup menjadi remah dan tidak bermakna jika tidak bergelimang harta. Selain itu, muncul tanda-tanda kehancuran  nilai dan moral, yaitu meingkatkan  hubungan seks diluar pernikahan  dengan  menjamurnya  tempat-tempat pelacuran, orang tua memperkosa  anaknya, meminta pertolongan kepada benda-benda gaib dan roh-roh halus dalam rangka membantu menyelesaikan masalah hidupnya.
    Seringkali akibat tuntutan masa kini yang serba cepat dan mendadak manusia lupa akan kewajibanya sebagai umat beragama.
Hedonisme dan materialisme merupakan musuh besar manusia, karena keduanya menawarkan kesenangan yang berujung kepada pelupaan makna dan kehadiran agama dalam kehidupan manusia. Hedonisme menganggap kesenangan sebagai sebuah agama sementara materialisme beranggapan bahwa kehidupan yang berlimpah materi merupakan segalanya dan ujung dari materialisme adalah menafikan sesuatu yang bersifat non-materi, yaitu Tuhan.
Kehidupan modern seperti inilah yang harus ditinggalkan oleh umat Islam, karena kehidupan seperti di atas kering secara spritual. Dengan kata lain, dalam kehidupan ini (hedonisme dan materialisme) manusia mulai memandang dirinya sebagai pembawa makna tertinggi dalam dunia dan ukuran bagi segalanya. Kehidupan dan kemuliaan harkat manusiawi memudar. Akhirnya dunia kehilangan dimensi manusiawinya dan agama kehilangan dimensi spritualnya.
Ketika dimensi kemanusiaan dan spritualiatas hilang maka yang timbul adalah malapetaka, tindak kejahatan dan musibah yang sering terjadi dinegeri ini boleh jadi dikarenakan rasa kemanusiaan dan makna spritualitas agama telah hilang.
Prinsip hidup bahwa yang kuat yang menang dan yang lemah yang kalah seakan-akan telah menjadi rujukan yang benar dan sangat bernilai dalam hidup ini. Karenanya, sangat wajar jika penindasan semakin meningkat.
yang terjadi didalam umat beragama islam yang sebagian besar kurang berpedoman kepada Al-Qur’an, terutama dikalangan anak remaja.
 Masalah-masalah agama yang timbul dimasyarakat. Syaikh An-Habhani menelaah fakta perbuatan manusia dari segi apakah manusia dipaksa untuk berbuat (Musayyar) atau diberi hak pilih (Mukhayyar). Fakta menunjukan, ada 2 jenis perbuatan manusia, pertama: adakalanya manusia itu musayyar, misalnya ia tidak bisa terbang dengan tubuhnya sendiri atau ia mengalami suatu kecelakaan diluar kuasanya.

Segala perbuatannya atau fakta saat manusia berstatus musayyar inilah  yang disebut Qadha. Yang menetapkan  Qadha adalah Allah dan tidak akan dihisab  tentang Qadha dari Allah  itu tidak juga perhitungan dosa dan pahala. Kedua: adakalanya manusia nukhayyar misalnya ia makan nasi mencari nafkah dengan jalan mencuri dll. Sesuai dengan kehendak sendiri.
Disinilah manusia dikatakan telah  memanfaatkan Qadar, yakni karakter khusus yang melekat pad segala sesuatu, misalnya ingin memiliki harta ( hubbut tamalluk) pada naluri manusia yang menetapkan Qadar adalah Allah, namun manusia tetap akan dihisab tentang pemanfaatan Qadar, dan ada perhitungan dosa dan pahala. Sebenarnya  kita telah terbawa oleh arus negatif artinya kita tidak dapat mengendalikan perilaku-perilaku yang menyimpang.
 Contoh : 1). Para pemuda yang senang berjudi
                2). Para pemuda yang senang merokok
          3). Para pemuda yang senang menggunakan obat-obat terlarang.

Mereka tidak menyadari bahwa perilaku tersebut bertentangan dengan norma agama yang   akhirnya akan merusak generasi penerus dimasa yang akan datang.
Kehidupan seperti ini sangat tidak sesuai dengan nafas Islam. Sebagai sebuah agama, Islam selalu memerintahkan kepada umatnya untuk berbuat baik terhadap sesama dan melestarikan alam ini.
Perintah ini menunjukan bahwa tolong menolong, saling menghargai, tidak menjadi perusak alam merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan ini, sehingga akan berwujud kepada kehidupan yang aman, damai dan sejahtera



2.3 Faktor penyebab modernisasi dalam agama

            masalah-massalah politik dan sosial, sementara agama mengurusai masalah kerohanian, moral dan kebatinan.
Pandangan Al-Jabiri ini tampaknya diciptakan berdasarkan pengamatannya yang mendalam terhadap realitas objektif kebanyakan negara-negara Arab. Jadi pandangannya didasarkan kepada nasionalisme Arab.
Ada saja orang yang mengatakan kembali ke Islam artinya kembali ke jaman onta. Ada juga yang mengatakan jika kembali ke Islam kita akan mundur beberapa ratus tahun ke belakang. Seolah-olah jika kita menjalankan aturan Islam secara kaffah harus meninggalkan semua teknologi yang kita miliki. Tentu saja pendapat tersebut keliru.
Dilihat dari sisi historis saja pendapat tersebut jelas kesalahannya. Sebab pada masa yang lalu justru Islam adalah pemimpin dunia dalam urusan sains dan teknologi.trans
Ada dua kemungkinan mengapa pendapat seperti seperti itu muncul. Mungkin berasal dari keinginan melecehkan Islam. Atau mungkin timbul dari pemahaman Islam yang kurang sempurna.
Sebagai contoh, saya pernah mendengar cerita dari teman yang entah benar atau salah. Katanya dahulu seorang syaikh Arab menolak alat bor minyak bumi dengan alasan bid’ah Masuknya kebudayaan luar yang ada di Indonesia. Kontak kebudayaan tersebut akan berpengaruh dampak positif dan negatif.
Pengaruh positifnya adalah transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaruh negatifnya mereka luar negri. Dari masuknya kebudayaan luar kita harus menyaring dan memilih sisi positifnya serta membuang sisi negatifnya.
Orang yang sudah tidak mempunyai kesadaran lagi biasanya berbuat sesuatu tanpa perhitungan, tidak peduli apakah pebuatannya tiu akan menghancurkan didrinya sendiri atau tidak.

“Ketika hati orang-orang kafir sudah dicekam kesombongan  yaitu kesombongan jahiliyah, Allah menurunkan ketenangan kepada rasul-nya dan kepada orang-orang yang beriman. Allah mewajibkan kepada mereka keharusan bertaqwa, dan mereka itu memang patut dan berhak memiliki ketaqwaan. Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (S. Al-Fath : 26)

Salah satu penyebab lainnya adalah:
              -kecanggihan teknologi yang sangat pesat sehingga banyak masyarakat yang melupakan kewajiban beragamanya.
            -kurang disiplinya generasi muda dalam menjalankan kewajibanya yang berakibatkan para pemuda selalu mengulur waktu untuk kewajibannya.
            -kuatnya arus globalisasi
            -tidakada rasa istiqomah dalam menjalankan kewajiban
              -kurangnya rasa tanggung jawab dalam diri generasi muda sehingga banyak generasi muda yang saling memfitnah satu sama lain.

Para ahli sosiologi pernah mengklasifikasikan masyarakat menjadi masyarakat yang statis dan dinamis. Masyarakat statis merupakan masyarakat yang mengalami sedikit sekali perubahan dan perubahan pun berjalan lambat.
Adapun masyarakat dinamis merupakan masyarakat yang mengalami berbagai perubahan secara cepat. Oleh karena itu, pada masa tertentu, suatu masyarakat dapat dianggap sebagai masyarakat yang statis, sedangkan masyarakat lainnya dianggap sebagai masyarakat yang dinamis. Segala perubahan yang terjadi tidak terlalu berarti kemajuan (progress), namun dapat pula berarti sebagai kemunduran (regress).
Saat ini ketika teknologi komunikasi semakin modern, teknologi komunikasi banyak mempengaruhi terjadinya perubahan. Informasi semakin lama semakin mudah didapat dan komunikasi pun menjadi lebih mudah dilakukan.
Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi yang terjadi di suatu tempat dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat lain yang jauh dari tempat tersebut.
Sejumlah ahli sosiologi mengemukakan pendapatnya tentang perubahan sosial. William F. Ogburn tidak memberikan pengertian konkrit, apa itu perubahan sosial. Menurutnya, perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan, baik yang materiil maupun yang immaterial, terutama menekankan pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan materiil terhadap kebudayaan immaterial.
Adapun Mac Iver lebih senang membedakan antara utilitarian elements dan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam kedua kategori tersebut.
Sebuah mesin ketik, alat pencetak, komputer atau sistem keuangan merupakan utilitarian elements karena manusia tidak menginginkan benda-benda tersebut secara langsung memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Walaupun benda-benda tersebut dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhannya. Cultural elements merupakan ekspresi dari jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup dan berfikir, pergaulan hidup, seni kesusastraan, agama, rekreasi, dan hiburan.




2.4 Hubungan modernisasi dengan persoalan agama yang timbul


 Di Indonesia, reaktualisasi lebih berciri mengedepankan penafsiran, menyimak dan mengkaji lembali Al-QUr’an dan nilai-nilai yang pernah dipraktikan Rasul Muhammad SAW. Seningga dipastikan  proses modernisasi  itu berjalan dengan susah dan penuh goncangan dinamika . dinomika modernisasi itu selain berhadapan secara intern terhadap kelompok umat islam taradisional yang memegang teguh  adat tradisional  yang pernah mereka anut. Juga harus berhadapan dengan kekuatan  bangsa lain yang berusaha meredam gerakan modrnisasi itu. Disinilah proses modernisasi di Indonesia mendapat tantangan yang sungguh-sungguh  sangat berbeda  dibandingkan dengan Negara- Negara Islam lainnay yang memperjuangkan gerakan modern.
Adapun sebab-sebab secara kongkret mengenai timbulnya pembaruan Indonesia, antara lain:
1.      Campur aduknya hubungan kehidupan beragam dalam islam
2.      Aktivitas misi katolik dan protestan yang dikembangkan oleh penjajah dan missionaries pasca kemerdekaan.
3.      Keadaan politis, ekonomi, sosial, pendidikan (Secara umum) sebagai akibat adanya keadaan Indonesia yang sangat lama menjadi negri penjajah
Berdasarkan sebab-sebab diatas, maka usaha untuk mengembalikan ajaran agama islam dan umatnya kepada nilai dan propasi sebenarnya. Dan hal ini merupakan proyek modernism pasca kemerdekaan. Ada beberapa hal harus dilakukan antara lain:
1.      Membersihkan paham Islam di Indonesia dari segala pengaruh, tradisi budaya, dan pola pikir yang keliru.
2.      Reformasi Sistim dan ajaran-ajaran pendidikan Islam
3.      Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan-serangan dari luar, terutama penyusupan pahan yang sangat halus namun amat berbahaya terhadap doktrin Islam, baik ketika mau melepaskan diri  dari pengruh penjajah maupun setelah fase merdekaan.
       kemajuan teknologi terutama dalam dunia kedokteran, seringkali ditemukan kasus-kasus pemindahan anggota badan baik dari manusia yang sudah mati maupun yang masih hidup kepada pasien, seperti pemindahan ginjal, tranfusi darah, jantung, rambut, dan lain-lain. Padahal pemindahan anggota badan baik berupa pencangkokan, tranfusi, donor dan lain sebagainya merupakan  konsekuensi logis dai kemajuan teknologi dan ilmu  pengetahuan.
Proses pemindahan itu secara medis biasa dilakukan  terhadap orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati. Yang terjadi didalam umat beragama islam yang sebagian besar kurang berpedoman kepada Al-Qur’an, terutama dikalangan anak remaja.
 Kesadaran harus mulai terwujud bagi manusia yang hidup pada zaman modern ini dengan menyadari betapa pentingnya mewujudkan kehidupan yang baik dengan tidak selalu mengartikan dan memahami modernitas dengan gaya dan standar hidup masyarakat barat dan harus diingat bahwa setiap budaya yang muncul dalam suatu negeri memiliki pola dan corak yang pasti berbeda dari negeri lainnya, oleh karena itu mengapresiasi budaya dalam negeri sendiri dengan memberikan corak-corak keislaman lebih baik daripada mengadopsi budaya yang lahir dari negeri lain (Barat) dan menjadikannya sebagai ukuran maju atau mundurnya suatu bangsa.
Menjadi modern berarti harus mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya baik lama ataupun baru dan yang muncul dari manapun dengan nilai-nilai agama atau nilai-nilai keislaman. Dengan kata lain, modernisme yang tidak didasari dengan nilai-nilai ketuhanan akan membuat manusia yang hidup di zaman ini menjadi mahluk yang kering secara spiritual. Moderasi Beragama
Dalam penelitian Ronald C Wimberley dan James A Christenson (1976) di Carolinia, 70% menyatakan mereka setuju bahwa hak asasi manusia berasal dari Tuhan, bukan hanya diperoleh dari hukum. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat tersebut memiliki tingkat keberagamaan atau keimanan yang cukup tinggi kepada Tuhan. Tetapi keimanan tersebut tidak diekspresikan dengan identitas keagamaan yang formal.
Mereka lebih menghayati agama sebagai nilai-nilai etik. Hal yang sama juga ditunjukan dalam upacara kenegaraan, seperti pelantikan Presiden yang mengandung nuansa sakralitas agama. Pelantikan tersebut seakan ingin mengungkapkan bahwa seorang kepala negara tidak semata bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya, melainkan juga kepada Tuhan.
Kehidupan agama yang bersanding manis dengan negara (modern nation-state) mencerminkan bahwa nilai-nilai agama selaras dengan kemajuan. Terkait dengan itu, moderasi beragama yang selama beberapa tahun belakangan gencar dilakukan oleh tokoh-tokoh agama di Indonesia, merupakan upaya untuk lebih mempromosikan nilai-nilai agama, terutama yang berkaitan dengan semangat berbangsa dan bernegara. Kesalahan dalam beragama tidak semata ditunjukkan dengan tingkat kerajinan membaca al-Quran, melainkan juga kepedulian terhadap masalah bangsa. Jika saja moderasi ini mendapat dukungan besar dari seluruh lapisan masyarakat baik yang beragama Islam ataupun non-Islam, maka agama akan semakin berkorelasi positif dengan kemaslahatan dan kemajuan sebuah bangsa.
Selain itu, kecanggihan teknologi masa kini sudah menyangkut   hubungan dengan Al-Qur’an. Contohnya banyak pemilik komputer masa kini yang sudah memiliki CD Al-Qur’an, tidak hanya bisa menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an tetapi juga bacaan, dan terjemahan, lengkap dengan berbagai penafsiran para ulama yang dinukil dari berbagai kitab tafsir.
Penggunaan CD dan kaset Al-Qur’an menjadi masalah, lantaran Al-Qur’an atau lebih tepatnya mushaf sebagaimana diungkapkan penanya mempunyai beberapa khususiyah, atau keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab atau buku lain. Salah satunya adalah tidak boleh disentuh dalam keadaan tidak suci.
Berdasarkan dalil akli itu yang digunakan untuk memahmi bukti-bukti empiris, akan diperoleh keimanan kepada adanya Allah, bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah, dan bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah ketiga perkara inilah yang selanjutnya menjadi dasar penetapan dalil nakli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) untuk mengimankan perkara-pekara yang gaib seperti adanya hari kiamat, surge, neraka, malaikat, jin, setan, dsb. Pada masa lalu, teknologi yang dibawa Barat cukup mengagetkan umat Islam.
 Pada masa kekagetan itu, umat Islam kebingungan dalam menyaring segala sesuatu yang berasal dari Barat. Akibatnya timbul tiga gologan. Gologan pertama melarang segala sesuatu yang datang dari Barat karena berasal dari kaum kafir. Ada golongan yang menerima semua yang berasal dari Barat dengan alasan agar Islam jadi maju. Ada juga yang menyaring mana yang sesuai dengan Islam mana yang tidak.
Itu kata yang sering diungkapkan menghadapi modernisasi yang dibawa Barat. Namun apa alat saring yang tepat bagi umat Islam? Yang pasti bukan budaya Indonesia yang tidak jelas. Bagaimana tidak jelas. Budaya Indonesia berbeda dari Sabang sampai Merauke. Mau budaya Aceh? Budaya Bali? Atau malah budaya Papua? Semua budaya itu berbeda dengan kekhasannya masing-masing. Tapi tentu saja bukan dengan budaya Arab. Bahkan semuanya harus ditolak bila tidak lolos saringan Islam.
Banyak pihak menyudutkan Islam dengan mengatakan Islam identk dengan keterbelakangan dan menolak modernisasi. Pandangan ini tentu salah sebab Islam anti keterbelakangan dan kebodohan. Islam sangat mendorong sekali jika yang disebut modern itu adalah kemajuan iptek.
Namun jika yang dimaksud akhirnya mengkiblat/membebek kepada kebudayaan barat ini (westernisasi) adalah sebuah kekeliruan. Sebab, saat ini banyak orang latah bahwa orang dikatakan ’modern’ jika berperilaku dan bersikap seperti orang barat. Sebaliknya, disebut kuno jika tidak mengadopsi demokrasi dan HAM’ atau tidak bergaya hidup seperti orang barat yaitu hedonis, permisif, materialis dan bebas (liberal). Jika modern dimaknai sebagai pembaratan seperti ini maka Islam ’menolak’ modernisasi.
Islam melalui syariatnya bukan akan menghentikan modernisasi (dalam arti kemajuan teknologi, sains, sarana dan prasarana penunjang hidup), melainkan meletakkan modernisasi agar tetap dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Bila modernisasi diartikan sebagai pengembangan madaniah, yakni produk-produk teknologi yang bersifat material guna peningkatan mutu, keamanan, kenyamanan, dan kemudahan dalam kehidupan manusia (baik dalam bidang komunikasi, transportasi, produksi, kesehatan, pendidikan, perumahan, makanan, pakaian dan sebagainya), Islam sama sekali tidak keberatan.
Hal itu akan diteruskan, bahkan akan ditingkatan oleh Islam. Artinya, manusia boleh saja menggunakan semua perangkat hasil pengembangan sains dan teknologi. Hanya saja, pola kehidupannya baik dalam konteks kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat haruslah tetap dalam koridor syariat.
Yang dikembangkan Islam bukanlah modernisasi yang memurukkan derajat manusia sebagaimana kini terlihat dalam kehidupan Barat, yang telah menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan-Nya. Melainkan Modernisasi yang akan memuliakan manusia


2.5 Cara mengatasi masalah modernisasi agama       islam

            Cara mengatasinya dengan cara istiqomah. Karena, jika manusia itu memiliki iman yang kuat maka ia memiliki pendirian yang teguh dan kecanggihan teknologi bisa dimanfaatkan dengan sebaiki-baiknya. Jika manusia itu tidak memiliki iman yang kuat maka ia tidak memiliki pendirian yang teguh dan mudah terjerumus. Dan  kecanggihan teknologi masa kini bisa menjadi dampak yang buruk baginya. Selain itu harus kuat iman karena dengan kuatnya iman insya Allah kita tidak akan terbawa oleh arus negatif. Banyak orang yang mengartikan bahwa modernisasi adalah zaman untuk bergaya, padahal dalam pandangan islam modernisasi ialah batasan yang tidak boleh keluar dari norma-norma Islam.
Selain cara tersebut,  bisa dilakukan dengan member dasar pendidikan keimanan. Contoh:
1. Setelah anak lahir disunatkan azan di telinganya, ini adalah awal dari pendidikan keimanan. Dari sejak dini hendaknya  orang tua memperkenalkan  kehidupan yang bernapaskan islam sehingga anak tidak akan asing dengan tradisidan budaya islam yang dijumpai didalam rumahnya atau pada lingkungannya.
2. Mengajarkan kalimah La ilaha illallah. Riwayat dari Al-Hakim dari ibnu Abbas r.a. dari nabi SAW. Ia berkata:”Permulaan kalimat yang harus diajarkan kepada anak-anakmu ialah kalimat La ilaaha illallah”.
3. Anak sejak mulai berakal hendaknya dikenal dengan apa-apayang tidak haram dan apa-apa yang haram. Hadist dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dari Ibnu Abbas ia berkata:”lakukan ketaatan kepada Allah dan takutlah kemaksiatan kepada Allah, printah putramu agar menjalankan printah dan menjauhkan diri dari larangan, yang serupa itu adalah pembentengan bagi mereka dan bagi kamu dari neraka”.
4. Memperkenalkan suasana semangat (gemar) salat sedini mungkin, mengajarkan mulai umur tujuh tahun
5. Sejak dini perlu dididik agar timbul rasa cintanya kepada Rasul SAW. Kepada ahli baitnya dan suka membaca Al- Qur’an. Hadist riwayat Thabrani dari Ali r.a. bahwa nabi saw. Berkata:”Dididiklah anakmu atas tiga hal: Mencintai nabinya, mencintai ahli baitnya dan membaca Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an itu berada dibawah naungan Arasy Allah bersama-sama dengan para Nabi dan hambanya yang suci pada hari tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah”.
6. Para ahli pendidikan sependapat bahwa setiap anak lahir dalam  fitrah tauhid, dalam akidah iman pada Allah  dan dalam keaslian suci dan bersih, bila sejak dini mendapatkan pendidikan baik maka akan tumbuh dengan baik.


2.6 Menjadi muslim yang modern

Menjadi muslim yang modern dengan cara memiliki tradisi masyarakat Islam, yaitu shalat Isya, bangun tengah malam untuk shalat malam (sahalat tahajud/ Hajat), kemudian shalat subuh, selesai menunaikan sahalat subuh mempersiapkan diri unut mncari nafkah, sesudah itu shalat dhuha, selanjutnya berangkat mencari nfkah apa pun jenis pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai islam . contoh lain, yaitu seorang laki-laki muslim  tiak boleh berdua-duaan dengan wanita lain yang bukan muhrimnya, wanita muslim tidak boleh menampakkan perhiasan  / keindahan tubuhnya dan berdandan ala dandanan “jahiliyah”.
Pandangan hidup muslim adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan hidupnya, yakni semata-mata mencari ridha Allah. Pandangan ini akan membuat manusia kuat pendiriannya, yakni tidak mudah terpengaruh oleh perubahan social yang bertentangan dengan tujuan hidupnya
2.      Funsi hidupnya, ykni sebagai khalifah dimuka bumi, yang diberi tanggung jawab untuk menegakkan kebenaran dan membasmi kemungkaran.
3.      Tugas hidup, yakni melaksankan perintah Allah da menjauhi semua larangannya.
4.      Alat hidup, yakni harta yang dicarinya merupakan alat hidup untuk mencapai kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, maka dalam mencari harta, ia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam sehingga hartanya digunakan sebagai sarana Ibadah kepada Allah.
Sesungguhnya masyarakat Islam yang benar adalah suatu  masyarakat yang membela adab asusilanya yang sejati dan tradisinya yang asli sebagaimana ia membela tanah airnya supaya tidak  diduduki musuh, membela kehormatannya  supaya tidak dinodai, membeladan melindung kekayaannya  supaya tidak dirampok/ dikorupsi dan membela harga dirinya supaya tidak dilerehkan. Sebagai masyarakat Islam, hendaknya menjauhi dan terperdaya dengan tradisi-tradisi yang menyesatkan.
Islam mengembangkan sikap yang terpuji dan menolak serta meluruskan sikap yang tercela. Perubahan dapat terjadi akibat pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Al-Qur’an, serta kemampuan memanfatkan dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan hokum-hukum Islam. Kita mengetahui bahwa setiap mayarakat, setiap kesatuan kebudayaan mengalami perubahan, termasuk budaya yang dianggap paling stabil pun mengalami perubahan. Misalnya kode etik, kode hokum dan budaya perayaan agama. Perubahan masyarakat dapat terjadi akibat kecenderungan untuk menyimpang dari ajaran pokok Islam sebenarnya terletak dalam diri kaum muslimin.
Bagi mereka yang hidup jauh setelah sepeninggalan Nabi Muhammad SAW mengalami kesulitan sehingga keadaan menjadi berubah yakni umat Islam kembali kepada kehidupan primitif/ ajaran tradisi dipengaruhi oleh paham tradisi setempat. Setelah satu faktor utama penyebab  rusaknya kehidupan Islam adalah munculnya kesesatan ke dalam Iman dan prajtik ajaran Islam yang dilakukan oleh para pemeluknya.
Arus globalisasi bisa menjauhkan dari agama. Baik itu agama Islam atau agama yang lainnya. Oleh karena itu, kita harus memiliki  Salah satu ciri manusia yang modern  yaitu disiplin.
Dengan adanya  rasa disiplin maka manusia itu terbiasa  memanfaatkan waktu dengan sebaik- baiknya. Ciri lainya adalah bertanggung jawab. Dengan adanya rasa tanggung jawab di dalam masyarakat.
Maka masyarakat itu akan mempunyai rasa tanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya masing-masing dan berani bertanggung jawab jika ia mempunyai salah. Dan dengan cara memiliki sifat tersebut  kita bisa menjadi muslim yang modern yang tidak ketinggalan zaman.


  Bab 3
   Penutup


3.1 Simpulan           :

1.      Walaupun arus globalisasi dan modernisasi deras mengalir membanjiri jalan pikiran manusia, tetapi Setiap orang pasti memiliki agamanya masing-masing.
2.      Agama harus lebih di utamakan dari segalanya. Kehidupan didunia hanyalah sementara, karena Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi  yang lebih kekal dari pada kehidupan didunia.

3.2Saran   :

1.    Walaupun kita sebagai individu yang mengikuti perkembangan zaman tetapi sebagai seorang muslim yang baik kita harus tetap menjadikan agama sebagai landasan hidup dan tidak menjadikan ego kita sebagai penuntun hidup, karena ego kita seringkali bertolak belakang dengan norma norma yang berlaku.
2.    Sebaiknya kita harus bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Dengan maksud, jika pada saatnya beribadah gunakanlah waktu itu untuk beribadah, janganlah gunakan waktu itu untuk kepentingan yang lain. Karena biasanya, penyesalan itu akan datang pada saat akhir.


Daftar Pustaka


-         Rahmat, Jalaludin. 1994. Keluarga muslim dalam masyarakat modern. Bandung: Rosda
-         Mahfudh, Sahal. 2003. Solusi Problematika Umat. Surabaya: Ampel Suci
-         al-ghazaliy, Muhammad. 1993. Fiqush sirah. Bandung: pt. alma‘arif
-         Billah Arif, Muhammad. 2006. Memperbarui Pemahaman Islam. Jakarat:Hizbut Tahrir Indonesia
-         Al-jawi Shiddiq, Kiai Haji Muhammad. 2006. Merekonstruksi Sistim Kehidupan Islam. :Hizbut Tahrir Indonesia